Kamis, 12 Juni 2014

Sorry........ Goodbye

Akhirnya setelah berfikir semalaman dan membuat tidurku tak nyenyak, pagi ini aku memutuskan untuk mengajak Arga ketemuan di taman kota. Menghirup udara pagi dan melihat tetumbuhan hijau mungkin akan sedikit mencairkan ketegangan yang bisa saja terjadi nanti.
  Waktu menunjukan pukul 07.10 WIB, masih ada waktu 20 menit dan perjalanan dari  rumah ke taman hanya sekitar 15 menit. Aku bergegas menuju taman kota, aku tak mau membuat Arga menunggu seperti yang sudah-sudah. Ketelambatkanku biasanya jadi senjata yang paling ampuh bagi Arga untuk memborbadirku dengan penrnyataan-pernyataan childishnya ketika dia kesal padaku. Arga selalu saja begitu, selalu ingin menjadi yang lebih dominan diantara kita. Sifat Arga yang suka berubah-ubah sering membuatku jengkel dan kesal tapi itu juga yang selalu membuatku merasa kesepian ketika dia terkadang tak ada kabar.

"Heii nglamun aja" sapa Arga mengagetkaku.
"Ihhh kebiasaan deh" kataku datar
"Kenapa sih yang pagi-pagi udah ngajak ketemuan gini, ada hal yang penting ya atau kamu kangen?" candanya padaku. Senyum itu senyum yang dulu hanya milikku, hanya untukku tapi akhir-akhir ini bahkan dia lupa tersenyum untukku.
 "Aku mau tanya soal gosip di sekolah. Antara kamu dan......"
"Tisya?" potong Arga mendadak. Wajahnya menyiratkan kesalahan dan tubuhnya mengisyaratkan kegelisahan.
"Ya. Dan aku mau lanjutin kuliah di Jogja" ucapku hati-hati.
Arga kaget mendengar ucapanku, dia hanya menatapku tanpa berkata apapun. Mata seolah bertanya "kenapa harus pindah? Apa karna aku?". Seperti ada tanda tanya besar dalam benaknya ada sedikit penyesalan dalam tatapan matanya.

"Jogja? Bukannya kita mau kuliah bareng? Aku sama Tisya emang deket tapi kita gak ada apa-apa Refa kamu percaya aku kan? Kita kan bisa bicarain ini baik-baik, bukan dengan cara kamu kabur kaya gini" ucapnya tegas.Bahkan dia kini mulai memanggil namaku, semarah apapun dia padaku dia tak pernah memanggil namaku. Apa yang terjadi padamu belakangan ini Arga, aku mulai asing dengan dirimu sayang.
"Dulu iya, aku sangat mempercayaimu tapi dengan kebohongan-kebohonganmu selama ini sepertinya rasa percaya itu luntur dengan sendirinya"
"Jadi selama ini kamu hanya berpura-pura percaya padaku?"
"Tidak. Aku percaya padamu tapi fakta mengungkap sandiwaramu Arga. Sudahlah, jika memang bahagiamu dengan Tisya. Lupakanlah aku. Jika nanti kita bertemu kembali anggap saja aku orang baru dalam hidupmu dan hapus memorimu tentang aku"
"Ga semudah itu fa, kamu udah menemaniku 2,5 tahun ini. Kenangan tentang kamu terlalu banyak dan ga mugkin bisa aku hapus gitu aja. Aku juga gamau pisah dari kamu. Aku... aku lebih milih kamu daripada Tisya".
Butiran bening mrncoba keluar di ujung matanya. Ada keraguan yang mulai menghampiriku. Pertahananku mulai goyah, aku mulai mengurungkan niatku. Aku masih berharap Arga bisa berubah, masih berharap dia memilihku daripada Tisya.
"Lebih memilih aku daripada Tisya? Bukannya kalian gak ada apa-apa seperti katamu tadi? Terus kenapa kamu harus memilih?". Arga mulai tergagap, ada kecemasan dalam raut wajahnya. Dalam hatiku ada sedikit rasa lega bisa mengucapkan kata-kata selancar itu didepan Arga. Suatu hal yang luar biasa, Refa kini telah berubah bukan lagi mejadi Refa yang tak pernah bisa melawan kata-kata Arga.
 "Sorry Ga, aku harus pulang dan membereskan barang-barangku. Bye Ga... semoga kamu bahagia" ucapku sambil berlalu.
Ku tinggalkan Arga yang masih terpaku dibangku taman. Kubiarkan dia beradu argumen dengan fikirannya. Cairan bening yang sedari tadi memaksa ingin keluar akhirnya tumpah juga. Perasaan sakit mulai menggelayuti hatiku. Hubungan yang kujaga selama 2,5 tahun harus berakhir begitu saja, Arga benar tak mudah memang menghapus kenagan yang sudah terukir diantara kita. Tapi daripada aku harus memunafikan diriku dalam cinta Arga lebih baik aku yang pergi membiarkan Arga memulai cinta baru, mungkin dia bosan denganku atau mungkin Tisya lebih bisa membahagiakannya.. Tisya memang hebat bisa membuat Arga melupakanku sekitar 3 bulan ini. Rekor yang sangat fantastis dalam perselingkuhan Arga, biasanya dia hanya tahan 2 minggu lalu kembali padaku.

Arga... maaf jika aku mendadak meninggalkanmu, aku hanya berusaha mendamaikan hatiku yang telah kamu porak porandakan akhir-akhir ini. Kebohongan-kebohonganmu yang dulu mungkin aku bisa memaafkannya aku bisa mengabaiknnya. Tapi kali ini kepercayaanku mulai hilang, maafku mulai tak tersisa untukmu. Menjauh darimu mungkin akan membuatku merasa lebih baik,aku merasa masih pantas disayangi lelaki setia. Jujur saja aku lelah dengan sikapmu yang selalu menjadi diktator dalam hidupku. Dan kamu selalu tak bisa hidup hanya dengan satu wanita di sampingmu.

Jogja....... kota yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya, hingga akhirnya kakak mama menelpon dan menyuruhku kesana untuk menemaninya. Anak-anak Tante sudah berkeluarga dan suaminya sering pergi ke luar kota, jadi apa salahnya aku menerima tawarannya. Jogja akan mejadi saksi bisu hatiku melupakan Arga. Biarkan Jogja yang akan menyembuhkan luka yang mengangga dalam hatiku. Jogja telah menungguku dengan segala keindahannya.





6 komentar:

  1. wohoo keren nih, ini cerita asli atau fiksi? :D
    lanjutkan karya2nya ;))

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks :) fiksi kok, ga yakin kalo hasilnya bagus :(

      Hapus
  2. Wah, kebawa sama alurnya Arga dan Refa nih hehehe. Mungkin hemm saran sedikit, sih, biar pembacanya ngga repot menduga-duga ini dialognya siapa, bisa ditambahin kalimat keterangan. Misalnya,
    "......," kata Arga.
    Aku membantah, "........."
    Gitu. Biar ngga gundul hihihi. Semangat selalu menulisnya.
    Dan, oh, ada satu lagi pertanyaan: kenapa harus Jogja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks banget ashima buat sarannya :-*
      hehe gapapa indah aja
      ada kenangan tersendiri kah? :-P

      Hapus
  3. Keren kak. Kebawa cerita nih, kasihan Refa di-pho-in. :')

    BalasHapus